Header Ads

Seni Memandang Masa Lalu dan Esok pada Diri Pemimpin


Salah satu tantangan kepemimpinan adalah berseni dalam memandang masa lalu dan masa depan. Karena masa lalu kerap menutup pandangan seorang pemimpin untuk melihat masa depan. Bukan hanya yang buruk, masa lalu bahagia pun bisa menutup pandangan masa depan.

Masa lalu yang buruk kerapkali menumbuhkan ketakutan. Sehingga seorang pemimpin tidak berani mengambil keputusan penting di masa depan. Seorang pemimpin juga cenderung menolak ide-ide baru yang datang kepadanya. Dia takut gagal. Akhirnya organisasi, bisnis ataupun nirlaba, yang dipimpinnya mengalami kemacetan alias sulit berkembang.

Masa lalu yang bahagia membuka kemungkinan untuk berbangga diri. Sehingga ide-ide yang datang bisa jadi diremehkan. Begitu juga capaian serta progres staf/junior kadang dianggap tak berarti. Padahal sang staf sudah bersungguh-sungguh. Di sisi lain apresiasi yang minim menciptakan lingkungan yang berpotensi toksik. Kebaikan tidak dihargai, sementara kesalahan diteriakkan ke mana-mana dengan suara keras.  

Akhirnya terjadilah dua mudharat sekaligus, organisasi mandek dan staf/junior tidak termotivasi untuk melahirkan gagasan-gagasan baru. Dapat ditebak apa yang terjadi kemudian, organisasi mendekati ajalnya. Organisasi tidak berjalan lagi, sementara staf/junior pergi mencari lingkungan yang lebih sehat secara mental.

Oleh karena itu penting kiranya seorang pemimpin membangun kemampuan berseni memandang masa lalu dan masa depan. Mari menguraikannya.

Memandang masa lalu seibarat melihat spion. Melihat spion terus-menerus tentu tidak baik. Pengemudi tidak memahami apa yang di depan. Akibatnya tabrakan bisa terjadi. Kecelakaan tidak terelakkan.

Dengan demikian bolehlah sesekali masa lalu dilihat. Ambil pengetahuan-pengetahuan penting sebagai bekal untuk mengambil tindakan di masa depan. Sehingga tindakan berdampak baik.

Di konteks organisasi, seorang pemimpin diharapkan mengompilasi pelajaran dari masa lalu organisasinya. Kompilasinya lengkap. Seputar kegagalan, tidak hanya kegagalannya saja yang diceritakan. Konteks yang mengitarinya juga diceritakan. Dengan demikian semoga proyeksi ke depan lebih akurat, situasi seperti apa yang benar-benar berpotensi melahirkan kesalahan. Generalisasi dapat dihindari. Staf/junior lebih berani melahirkan gagasan serta terdorong menyusunnya dalam rencana tindakan.

Seputar sukses, tidak hanya sukses yang diinventarisir. Akan tetapi unsur-unsur pendukungnya juga disimpan rapi. Agar staf/junior memiliki gambaran apa saja yang perlu disiapkan dalam rangka mencapai sukses. Sesuatu yang terlihat mata disiapkan, begitu juga ‘di balik layar’.

Sementara itu dalam memandang masa depan, baik jika seorang pemimpin mempersiapkan sebaik-baiknya. Piranti perencanaan dipilih seksama. Info-info divalidasi. Analisis dijalankan dengan sistematik. Narasi dan ekplanasi ditulis rapi.

Selain itu, rencana mitigasi juga disusun. Bagaimanapun masa depan berkaitan erat dengan takdir. Apabila sukses, itu karunia Allah ta’ala. Apabila gagal, itu musibah.

Hal paling penting adalah berusaha sekuat tenaga menggapai target masa depan, termasuk mempersiapkan kualitas sumber daya insani secara komprehensif sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat 13, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

 

Organisasi Tumbuh, Insan Tumbuh

Organisasi butuh bertumbuh. Karena organisasi berisi manusia, sedangkan manusia butuh bertumbuh terus. Jika organisasi bertumbuh, maka ruang tumbuh untuk manusia di dalamnya tersedia. Kemungkinan besar mereka akan betah dan berkontribusi.

Sebaliknya jika organisasi tidak bertumbuh, maka ruang tumbuh untuk manusia di dalamnya tidak tersedia. Akibatnya organisasi menjadi sempit. Lama-lama kelamaan manusia di dalamnya memilih untuk keluar.

Sehubungan dengan hal tersebut, perencanaan masa depan organisasi perlu dilakukan. Titik awalnya adalah seni yang dimiliki sang pemimpin dalam menelaah masa lalu dan masa depan. Bila seni yang dimiliki sang pemimpin membuka semangat inovasi orang-orang di organisasi, maka kemungkinan gairah tumbuh akan dirasakan. Berikutnya baru piranti dan kegiatan perencanaan masa depan bisa disiapkan sebagai batu pijakan kokoh melompat menggapai target.

Wallah a’lam.

 

Fu'ad F

Diberdayakan oleh Blogger.