Menerima Kenyataan Hidup Karena Allah
Saat seseorang mengerjakan sesuatu yang disukainya, waktu terasa lebih cepat dari biasanya. Sebaliknya saat seseorang mengerjakan sesuatu yang dibencinya, waktu terasa lebih lambat dari biasanya. Nuansa hati ternyata ikut mewarnai perjalanan waktu.
Oleh karena itu, ada saran, hendaklah manusia menyukai setiap apa yang dilaluinya dalam hidup. Jika tidak menyukai, mungkin ia bisa sekedar menerima kenyataannya. Berikutnya terserah saja, mungkin ia membiarkan kenyataan itu apa adanya atau memperbaiki yang sanggup diperbaiki.
Memang sebagian orang belum terampil menerima kenyataan dalam kehidupan ini. Hal ini dikarenakan mereka dibiasakan untuk menolak kenyataan, khususnya oleh orangtua. Saat mereka kecil, tanpa sengaja kepala terbentur meja, maka orangtua mengatakan, "Mejanya nakal ya..."
Ungkapan lain yang sering terdengar juga, "Bajunya sudah kekecilan..."
Padahal semua orang tahu, bukan bajunya yang mengecil. Akan tetapi badan pemilik baju itu yang membesar. Mari mengakui dengan terbuka, ada proses berpikir yang salah dalam kalimat tersebut.
Nah, kepada orang-orang yang telah dewasa, sekali lagi mari berupaya menerima kenyataan. Awalnya mungkin sulit. Menangislah, jika menangis itu dibutuhkan.
Berikutnya mari belajar memperbaiki apa yang butuh dan bisa diperbaiki. Pelan-pelan itu tidak masalah. Yang penting perbaikan dilakukan.
Seiring waktu, semoga kemampuan terus meningkat. Sehingga apa yang bisa diperbaiki semakin banyak. Hidup semakin berkualitas.
Saran berikutnya adalah mencari teman-teman yang suportif. Minimal tipe teman yang mau mendengarkan seksama, bukan sekedar komentar, apalagi suka vonis. Bagus lagi jika ditemukan tipe teman yang mau mendengarkan dan mengantarkan pada solusi. Intinya carilah teman yang berempati. Terasa sekali nyaman kala duduk serta bincang bersamanya.
Bagaimana jika teman yang suportif belum ditemukan? Berdoa kepada Allah ta'ala, mintalah untuk dikirimkan satu orang saja.
Lengkapi doa dengan ikhtiar memperbaiki diri. Karena orang baik lebih mudah dekat dengan sesama orang baik, sebagaimana orang jahat juga mudah dekat dengan sesama orang jahat. Demikian pengaturan Allah ta'ala.
Sebagai penutup, marilah sejenak mengambil nafas, lalu hembuskan sembari menyebut nama Allah ta'ala. Semoga ini jadi pengingat bahwa selalu ada Dia dalam hidup manusia.
Allah ta'ala memberi, juga menguji, bukan untuk membenci. Tapi karena Dia begitu mencintai. Maka balaslah cinta-Nya dengan mencintai hidup ini, minimal menerima semua kenyataannya.
Wallah a'lam.

Post a Comment