Membangun Fondasi Sukses dengan Mental Mandiri
Manusia punya kebutuhan hidup. Sebagian kebutuhan itu bersifat individual. Sebagian lainnya sosial.
Kebutuhan individual semisal makan, minum, dan berpakaian. Tanggung jawabnya pada orang masing-masing. Sementara kebutuhan sosial semisal bergaul. Tanggung jawabnya pada setiap orang dan komunitas.
Keduanya perlu dipenuhi. Dalam hal ini kemandirian perlu ditumbuhkan. Karena kemandirian melahirkan energi untuk senantiasa bergerak dan tumbuh.
Dalam konteks anak-anak, pendidikan keluarga dan sekolah memegang peranan penting untuk menumbuhkan kemandirian. Karena anak-anak masih butuh banyak bimbingan. Apa yang ada pada diri mereka belum mantap. Misalkan pada akal, logika anak-anak masih berupa potensi. Dengan bimbingan, semoga potensi logika berupa menjadi pola pikir yang matang.
Di usia baligh anak-anak diharapkan sudah punya mental mandiri. Kewajiban syariah sudah diletakkan di pundak mereka. Jika sudah mandiri, mereka berkemungkinan bisa menjalankan kewajiban syariah dengan baik. Hidup penuh dengan nuansa ketaatan dan kedamaian.
Apabila mental mandiri belum terbangun di usia baligh, deretan masalah akan segera terlihat. Masalah ibadah itu yang paling terlihat. Berikutnya masalah pengaturan agenda pribadi, bahkan masalah pergaulan.
Di usia yang lebih dewasa, tepatnya usia produktif, mental mandiri akan mengantarkan seseorang memiliki kesadaran akan tanggung jawabnya. Ia bisa memilah mana tanggung jawab yang sifatnya pribadi, mana pula bersama. Apa yang menjadi tanggung jawab pribadi diselesaikannya dengan aktif. Sementara tanggung jawab sosial diselesaikannya dengan kerjasama.
Berikutnya seseorang bermental mandiri akan diantarkan untuk rajin bertumbuh. Ia tak segan belajar apapun sesuai kebutuhannya. Hari demi hari hidupnya terus lebih baik.
Berbeda dengan orang yang tidak bermental mandiri. Ia kesulitan memetakan kebutuhan. Ia juga tidak mudah tergerak untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan, pasif sekali.
Apalagi bicara pertumbuhan, orang yang tidak bermental mandiri akan cenderung stagnan. Ia tidak akan mencapai pertumbuhan apapun. Repotnya lagi biasanya ia suka mempermasalahkan masalah dan menyalahkan orang lain.
Seorang pemimpin yang memiliki staf sejenis ini dihadapkan situasi yang sulit. Ia diharapkan bisa membimbing sang staf untuk memiliki mental mandiri dan bertumbuh. Seibarat mendorong gerobak, energi besar dibutuhkan.
Apalagi jika sang staf tidak sadar akan situasi dirinya. Tentu energi lebih besar perlu dikerahkan. Akhirnya tempat kerja dipenuhi nuansa stres. Ketidaknyamanan akhirnya hadir.
Dengan demikian semoga lahir kesadaran tentang pentingnya kemandirian. Seorang dewasa yang memiliki anak, hendaklah membimbing sang anak untuk tumbuh mandiri. Sementara pada dirinya sendiri, hendaklah ia terus menguatkan mental mandiri dan bertumbuh.
Semoga hidup semakin cerah.
Wallah a'lam.

Post a Comment