"Tidak harus aku..." (Sebuah Apresiasi untuk Pejuang Sejati)
Kisah teladan ini akan terus dikenang dan digali sebagai inspirasi agung. Seorang panglima perang yang tidak pernah kalah dicopot dari jabatannya, tapi kemudian tetap berperang walaupun sebagai prajurit. Tidak terdengar protesnya. Tidak pula terdengar, ia depresi. Mentalnya tetap stabil. Perangainya masih seperti biasa.
Iya, itulah Khalid bin Walid radhiyallah ‘anh.
Ia dicopot oleh Umar bin Khathab radhiyallah ‘anh, sang khalifah. Para ulama
dan sejarawan menafsirkan keputusan Umar bin Khathab sebagai antisipasi kekaguman
berlebihan pasukan kepada Khalid bin Walid. Berkurangnya tawakal sangat mungkin
terjadi sebagai buah kekaguman berlebihan tersebut. Padahal salah satu kunci
kemenangan pasukan Islam adalah tawakal yang penuh dan kuat kepada Allah ta’ala.
Tergambar kuatnya orientasi Khalid bin Walid
pada jihad fi sabilillah. Ia tidak peduli menjabat sebagai apa. Yang penting
ia tetap membela agama Allah ta’ala.
Oleh karena itu siapapun yang berdiri di
barisan pejuang agama Allah ta’ala perlu menyadari pentingnya orientasi. Hal
terpenting dari perjuangan ini adalah berkontribusi sekuat tenaga. Perihal
posisi itu bukan sesuatu yang final.
Apabila kemudian dirasakan ketidaknyamanan di suatu posisi, maka mengundurkan diri mungkin jalan terbaik. Akan tetapi tetap perjuangan di jalan Allah ta’ala dijalani.
Sama halnya apabila terjadi rotasi posisi dan dilalui dengan komunikasi yang baik, sebagaimana Khalid bin Walid, maka tetap saja di barisan para pejuang.
Dalam bahasa sehari-hari, perlu dihidupkan
kalimat, “Tidak harus aku. Karena perjuangan ini milik bersama.”
Derivasi mentalitas ini adalah keinginan untuk
tidak berada dalam rivalitas antarteman, semisal rivalitas dalam jumlah karya atau
popularitas. Pertama, karena rivalitas sejati ada pada mengalahkan diri
sendiri, agar hari ini lebih baik ketimbang hari lalu, bukan rivalitas antarteman. Kedua, rivalitas antarteman
kadang menimbulkan ketidaknyamanan hubungan sosial. Energi mental berpotensi
menguap habis. Kelelahan bisa sangat terasa. Ketiga, sinergi lebih dibutuhkan
dalam mencapai sukses bersama ketimbang rivalitas.
Alih-alih berkompetisi antarteman, seseorang dengan
kesadaran orientasi perjuangan akan menepi. Ia berikan panggung untuk orang
lain. Agar semangat perjuangan tetap terjaga. Demikian pula dengan kewarasan
jiwa.
Perjuangan di jalan Allah ta’ala sedemikian
luas. Lahannya tidak terbatas. Ada edukasi, advokasi, pemberdayaan, dan masih
banyak lagi. Sasarannya tidak sekedar umat Islam saja, tapi publik secara luas.
Menyadari hal ini seseorang dengan orientasi
perjuangan akan mencari lahan-lahan baru perjuangan manakala lahan perjuangan
yang ada telah sesak. Ia rela menepi dari arus deras untuk membuat arus-arus
kecil. Selanjutnya optimalisasi arus dilakukan. Manfaatnya harus maksimal.
Ia mungkin bukan Khalid bin Walid. Akan tetapi
ia berharap Allah ta’ala mencatat dirinya sebagai pejuang sejati di jalan-Nya.
Sehingga di akhirat nanti ia berhak berdiri sebarisan dengan Khalid bin Walid.
Wallah a’lam.

Post a Comment