Saling Apresiasi dan Berbagi sebagai Awal Sukses Bersama
Sebuah hadits riwayat Muslim menceritakan salah satu dialog antara Rasulullah shallallah 'alaih wa sallam dengan para sahabat. Beliau berujar, "Aku merindukan saudara-saudaraku."
Para sahabat bertanya, "Bukankah kami ini saudara-saudaramu, wahai Rasulullah?"
Rasulullah menjawab, "Tidak. Kalian adalah sahabat-sahabatku. Adapun saudara-saudaraku adalah orang yang datang setelahku, tapi mereka beriman kepadaku meskipun tidak melihatku."
Subhanallah, luar biasa! Generasi yang hidup dan beriman kepada Rasulullah tanpa sempat bertemu beliau punya keutamaan tersendiri. Bahkan para sahabat radhiyallah 'anhum terlihat keheranan, seakan keutamannya mengalahkan keutamaan mereka.
Demikianlah Rasulullah mengapresiasi setiap kebaikan. Beliau menyebutkan setiap kebaikan dengan sifatnya yang khas secara tepat. Sehingga kebaikan-kebaikan semakin kokoh.
Dari sini satu pelajaran penting bisa diambil: Kebaikan itu beragam, sebagiannya dimiliki satu pihak dan sebagiannya pihak lain.
Dengan demikian rasanya tidak perlu antarpihak saling merendahkan. Bahkan jika mungkin antarpihak saling mengapresiasi keunggulan yang ada. Situasinya lebih adem dan kondusif.
Selain itu saling mengapresiasi akan mendorong terbangunnya sinergi alias ta'awun. Kebaikan-kebaikan di banyak pihak digabung. Insya Allah kebaikan yang jauh lebih besar dapat muncul.
Saling mengapresiasi juga menumbuhkan kejelian dalam komparasi antarkarya. Karya yang satu memiliki kebaikan khasnya, karya lainnya juga begitu. Sehingga setiap karya memiliki relevansi masing-masing. Mungkin karya A cocok untuk situasi begini, karya B situasi begitu.
Saling apresiasi juga memungkinkan keterbukaan saat inovasi baru disodorkan. Tidak langsung menolak, juga tidak langsung menerima, demikian sikap yang muncul. Akan tetapi kebaikan inovasi ditelaah. Jika kebaikannya kompatibel dengan situasi kekinian, maka inovasi digunakan. Jika tidak, inovasi direkam terlebih dulu. Siapa tahu bisa digunakan di situasi lain.
Komparasi Tidak untuk Agama
Meskipun banyak hal bisa dikomparasikan tapi agama tidak bisa dikomparasikan. Islam sebagai agama jelas mengungguli agama lainnya. Uniknya Islam tidak meniadakan agama lain.
Sebagai ilustrasi sederhana. Ibarat dua lampu, Islam itu lampu yang sangat terang. Terangnya mengungguli lampu lainnya. Sehingga orang-orang tahu lampu mana yang paling berkualitas dan layak digunakan.
Mengenali Dua Filosofi Kompetisi
Ada filosofi kompetisi. Satu, kompetisi dengan menggunakan sumber daya untuk diri sendiri saja. Dua, kompetisi dengan berbagi sumber daya kepada pihak lain.
Filosofi pertama sering digunakan pada kompetisi yang memperebutkan urutan prestasi. Misalkan olahraga. Sementara filosofi kedua diharapkan untuk terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang berkenan memberi sekaligus menerima sumber daya dari orang lain. Perihal ini juga berlaku untuk komunitas atau organisasi.
Semakin banyak yang diberikan, semakin pihak itu mendekati sukses. Berikutnya semakin sukses, semakin banyak sumber daya yang diberikannya. Terjadilah siklus sukses-berbagi. Keberlimpahan semoga membumi seluas-luasnya. Bukan sebaliknya, konflik memperebutkan sumber daya terjadi di mana-mana. Penderitaan menghimpit insan yang lemah. Mereka semakin lemah.
Islam mengakui kedua filosofi kompetisi tersebut dengan meletakkan keduanya secara proporsional. Tugas seorang muslim kemudian adalah memahami dan mengaplikasikannya. Tidak mudah karena tidak semua pihak terbuka untuk sinergi. Akan tetapi tidak mudah bukan mustahil. Dengan mujahadah semoga kemungkinannya semakin lebar.
Wallah a'lam.

Post a Comment