Zuhud di Jagad Digital
Zuhud punya banyak pengertian. Akan tetapi intinya berkisar pada "mengambil sesuatu sesuai kebutuhan saja". Walaupun halal, apa yang tersisa tidak diambil. Apalagi syubhat dan haram, tidak akan keduanya diambil.
Zuhud memang banyak berkaitan dengan benda. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan untuk zuhud berkaitan dengan non-benda. Misalkan area menampilkan karya.
Sebagaimana diketahui, di dunia modern saat ini, area menampilkan karya lebih banyak berada di jagad digital. Salah satunya media sosial. Orang-orang berlomba supaya karya mereka dilihat oleh orang lain. Jika mungkin karya mereka berada di posisi nomor satu.
Akhirnya berbagai ikhtiar dilakukan agar karyanya viral. Masalahnya sebagian ikhtiar bersifat syubhat bahkan haram. Kezhaliman terjadi.
Sebutlah black campaign. Citra rival dihancurkan dengan fitnah atau cacian. Sang penghancur tidak melakukannya dengan tangannya sendiri namun lewat pihak lain yang sering disebut buzzer.
Lainnya adalah monopoli akses. Pihak yang memiliki kuasa mengurangi akses pihak lain. Sehingga pihak lain kesulitan untuk menampilkan karyanya.
Lainnya adalah memberangus area pemajang karya. Sebuah area ditutup untuk semua. Sehingga tidak ada lagi karya yang bisa ditampilkan di situ. Lagi-lagi ini hanya bisa dilakukan oleh pemilik kuasa.
Dalam hal ini ada tiga opsi yang bisa dipilih oleh para pemilik karya: Melawan, mengalah, atau membuat area pemajang baru.
Melawan berpotensi menimbulkan keributan. Sementara mengalah berpotensi karya menjadi kerdil, kehilangan makna. Sementara membuat area baru pemajang karya berpotensi energi banyak tersedot, namun menciptakan area alternatif pemajang karya.
Dengan semakin banyak area alternatif pemajang karya, semoga semakin bebas karya dipajang. Orang banyak bisa menikmati karya-karya tanpa pembatasan. Kompetisi baru tercipta, sifatnya jauh lebih adil.
Dalam kaitan zuhud, semoga pemajangan karya dengan tanpa berebut area pemajang menjadi wujud zuhud. Ketimbang berebut ruang pemajang karya, pemilik karya lebih memilih membangun ruang pemajang karya yang baru. Harapannya hati lebih tenang dari kompetisi.
Harus diakui kompetisi kadang perlu. Akan tetapi ada kompetisi yang baiknya dihindarkan, yakni saat kompetisi berpotensi menguras energi-energi kebaikan semua pihak. Apa yang tersisa hanyalah kehampaan. Bahkan tidak mungkin konflik tercipta.
Pihak yang berusaha zuhud hendaklah bersabar. Salah satu wujud sabarnya, selain merintis ruang pemajangan baru, adalah berkembang secepat mungkin, meninggalkan pihak lain yang ingin berebutan. Agar gap semakin lebar dan area berebutan tidak terbentuk.
Semoga hidup lebih damai. Munajat kepada-Nya lebih fokus. Energi kebaikan terus membara. Karya-karya terus tercipta.
Wallah a'lam.

Post a Comment