Meningkatkan Kualitas Berpikir dengan Model Berpikir Kebalikan Yang Utuh
Sebuah buku berjudul Whatever You Think, Think The Opposite menginspirasikan pola berpikir utuh berbasis kebalikan, semisal melihat kanan dan kiri. Begitu juga kemasan dan isi, jika kemasannya dilihat maka isi tidak ditinggalkan. Atau sebaliknya, setelah isi diamati, kemasannya juga ditengok.
Walaupun fokusnya pada satu hal
saja, tapi hal lain yang berkaitan tetap dilibatkan. Hal ini sebagai
konfirmasi. Sehingga kesimpulan diharapkan mencapai derajat sahih.
Kesahihan kesimpulan penting. Agar
pengambilan keputusan benar, solutif, dan relevan. Sehingga masalah terselesaikan
atau situasi meningkat kualitasnya.
Dalam hal ini ada tiga perihal
penting. Pertama, motivasi kuat untuk mengamati utuh. Kedua, mengetahui kebalikan
dari apa yang diamati. Sebagaimana dicontohkan, kanan kebalikan kiri, isi
kebalikan dari kulit. Ketiga, menyusun kesimpulan yang sahih dari hasil telaah
yang mungkin saling bertentangan.
Ketiga perkara memiliki tingkatan-tingkatan,
dari mudah hingga sangat sulit. Tingkatan mudah berkisar pada pengamatan benda
atau situasi konkret. Tingkatan sedang dan sulit berkisar pada interaksi antarorang,
terutama di komunitas.
Oleh karena itu bolehlah setiap
orang melatih diri dengan pola pikir ini dari benda dan interaksi antarorang
yang sederhana. Berikutnya secara bertahap, latihan ditingkatkan. Hingga di titik
yang cukup tinggi ia sudah ahli mempraktikkan pola pikir ini. Kesimpulan serta
rekomendasi yang dihasilkan berbobot.
Manfaat Lain
Dengan melihat kebalikan yang utuh,
semoga manfaat lain dapat diperoleh, yakni melihat peluang. Saat sesuatu yang
diinginkan tidak tergapai, sisi lain dari sesuatu itu dilihat, lalu dicari mungkin
ada peluang. Ini sangat penting. Selain menumbuhkan optimisme, peluang yang ada
diharapkan menjadi jalan untuk membalik situasi, dari kehilangan apa yang
diharapkan menjadi bisa menggapai sesuatu berharga lainnya.
Dalam hal ini keterbukaan hati perlu
diupayakan. Berikutnya kejelian pandangan ditingkatkan. Meminta bantuan kepada
berbagai pihak tidak perlu sungkan. Agar melihat segala arah bisa dilakukan serta
menghasilkan manfaat berlipat.
Mendesain Lingkungan Suportif
Model berpikir kebalikan utuh ini
butuh lingkungan yang suportif. Antarorang tidak merendahkan hasil bacaan dan
pikiran orang lain. Hasilnya bisa sangat divergen. Ini tidak masalah. Tinggal
setiap orang berkenan duduk untuk memilah dan memilih hasil yang relevan. Lalu dilakukan
sintesis. Berikutnya solusi disusun secara sistematis.
Antisipasi, Solusi, dan Peningkatan Kualitas
Model berpikir berkebalikan yang
utuh seperti ini potensial untuk menghasilkan gagasan solutif sekaligus
relevan. Dua cakupan telah disebutkan: Solusi dan peningkatan kualitas. Ada satu tambahan lagi, yakni antisipasi. Oleh karena
itu semoga setiap insan berkenan untuk senantiasa melatihan dan mempraktikkan
model berpikir seperti ini dalam aktivitasnya.
Tanpa bermaksud melegitimasi model berpikir ini dengan Al-Qur'an, perlu kiranya ayat-ayat Al-Qur'an ditelaah. Maka akan ditemukan sejumlah ayat yang menceritakan hal-hal berkebalikan, misalkan matahari dan rembulan, siang dan malam, sebagaimana dalam surat Asy-Syams dan Al-Lail. Semoga fakta ini menjadi landasan yang memperkuat motivasi dalam menggunakan model berpikir kebalikan yang utuh.
Wallah a’lam.

Post a Comment