Header Ads

Lingkungan Edukatif atas Kesalahan Insan

“Setiap anak Adam pasti melakukan kesalahan. Sedangkan sebaik-baik pembuat kesalahan adalah yang bertaubat.” (Terjemah hadits riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Hadits ini masyhur. Para ulama juga sudah mengulasnya secara jelas. Bahwa dengan segala kekurangan dan kelebihannya, seorang insan pasti melakukan kesalahan entah satu atau dua kali. Sebagiannya dilakukan dengan tidak sengaja, sebagiannya sengaja.



Meskipun demikian hadits ini tidak memberi legalisasi atau pengesahan bahwa setiap insan boleh sesuka hati berbuat salah. Akan tetapi setelah berbuat salah, seorang insan diharapkan bertaubat. Maknanya setiap insan diharapkan bersiap taubat kapanpun, karena kesalahan bisa dilakukan kapanpun.

Kesiapan bertaubat menuntut kerendahan hati. Saat diingatkan kesalahannya, seorang insan langsung merespon. Jika memang bersalah, langsung ia beristighfar dan memohon maaf. Jika tidak bersalah dan bisa memberikan penjelasan, ia bisa melanjutkan aktivitasnya.

Di sisi lain kesiapan saling memberi peringatan dan nasehat dengan baik diperlukan. Emosi yang meluap-luap dalam mengingatkan dan memberi nasehat hendaklah dijauhi. Karena wajar jika seorang insan berbuat kesalahan.

Ketimbang emosi meluap-luap, lebih baik ketenangan dihadirkan. Situasi dilihat. Jika kesalahan ringan saja, maka penyelesaiannya cukup istighfar bersama, selesai. Jika kesalahan berkonsekuensi atas satu tindakan, maka tindakan segera diambil sembari istighfar, selesai. Memperpanjang masalah tidak dibutuhkan.

Apabila keinginan memberi nasehat muncul, bolehlah nasehat diberikan. Itupun dilakukan dengan ketenangan. Nasehat yang bercampur dengan emosi kerapkali tidak terserap oleh sang pembuat kesalahan.

Situasi diperburuk dengan adanya hukuman yang tidak disiapkan sebelumnya. Trauma bisa muncul. Sembuhnya mungkin membutuhkan waktu yang cukup panjang.

Hukuman lebih baik disiapkan sebelumnya. Sosialisasi dilakukan. Antisipasi disiapkan. Bukan malah potensi kesalahan diperbesar.

Jika setelah semua ikhtiar ini dilakukan namun kesalahan masih terjadi, maka hendaklah semua pihak beristighfar. Allah ta’ala sedang menurunkan ujian. Semoga dengan memohon ampun kepada-Nya, tidak ada lagi ujian yang sama di masa depan.

Berikutnya tidakan konsekuensi dan hukuman dilakukan. Setelahnya perbaikan-perbaikan dilangsungkan. Kondusivitas terus terjaga.   

Dengan demikian terbangun lingkungan edukatif dan suportif. Setiap insan merasakan keamanan dan kenyamanan. Pertumbuhan dirinya berlangsung optimal. Berikutnya ia siap menjadi insan kontributif. Semuanya dilakukannya sepenuh ikhlas.

Wallah a’lam.

 


Diberdayakan oleh Blogger.