Abdul El-Sayed dan Iqra'
Masyarakat Amerika Serikat sedang menjalani masa-masa pemilihan presiden dengan salah satu kandidatnya beragama Islam. Nama lengkapnya Abdulrahman Mohamed El-Sayed, lebih dikenal dengan Abdul El-Sayed, seorang ahli epidemiologi dan senator. Ia juga pernah menjadi asisten profesor di Columbia University Mailman School of Public Health.
Rekan jejak akademiknya sangat menawan. h-index miliknya mencapai 37. Maknanya Abdul El-Sayed telah menulis 37 karya tulis dan telah dikutip minimal 37 kali. Sekali lagi, mari ulangi dengan garis bawah tebal, minimal 37 kutipan. Bisa jadi kutipannya lebih dari itu.
Satu sisi menarik yang kemudian bisa disorot adalah produktivitas ilmiah Abdul El-Sayed. Bahwa kesibukan seseorang tidak menghalanginya untuk menulis karya ilmiah. Bahkan bisa jadi seluruh kesibukannya menjadi bahan untuk karya ilmiah. Ini berarti ada korelasi dan kolaborasi antara kesibukan dengan penulisan karya ilmiah, sesuatu yang sangat mungkin terjadi apabila seseorang memiliki budaya ilmiah kuat.
Teringatlah sosok Imam Al-Ghazali rahimahullah. Beliau pernah menjabat sebagai rektor. Akan tetapi kesibukannya tidak menghentikannya untuk menghasilkan karya tulis. Bahkan saat menjadi sufi, beliau terus menulis. Budaya ilmiah beliau sangat kuat.
Dari kedua sosok tersebut, satu pelajaran penting dapat diambil, hendaklah budaya ilmiah sudah terbentuk sebelum seseorang menapaki kehidupan profesionalnya. Agar kehidupan profesionalnya tidak menghalanginya untuk terus berpikir ilmiah. Bahkan, sebagaimana telah disampaikan, kehidupan profesionalnya menjadi bahan penting dalam aktivitas ilmiahnya. Ada eksplorasi ilmiah terhadap aktivitas profesionalnya. Sehingga siklus perbaikan profesionalnya terhubung dengan standar ilmiah secara universal.
Pelajaran tersebut selaras dengan kata mutiara dari Umar bin Khatab radhiyallah 'anh, "Pelajarilah ilmu agama sebelum kalian menjadi pemimpin (atau tokoh yang dituakan)."
Memang ucapan Umar bin Khatab seputar ilmu agama. Akan tetapi konteksnya bisa diperluas menjadi ilmu-ilmu lainnya. Karena, selain ilmu agama, ilmu-ilmu lain juga dibutuhkan untuk menjadi seorang pemimpin yang kapabel.
Dapat disepakati bahwa perolehan ilmu bukan satu-satunya inti sari dari nasehat Umar bin Khatab. Akan tetapi internalisasi ilmu juga tidak kalah penting. Sehingga terbentuklah budaya ilmiah pada seorang pemimpin.
Dengan budaya ilmiah tersebut, seorang pemimpin akan menggabungkan realitas dengan idealitas akademis. Ia membaca dan menelaah keseluruhannya. Berikutnya ia mencari titik tengah nan solutif agar terbangun maslahat untuk masyarakat.
Inilah salah satu wujud dari perintah iqra' di wahyu yang pertama kali turun, yakni menerima dan menelaah segala sesuatu yang bisa dipelajari untuk kemudian dihadirkan solusi-solusi. Pertanyaannya, sejauhmana jangkauan solusi-solusi tersebut?
Apabila basis iqra'-nya bertumpu pada kebendaan dan biologis saja, maka sejauh itulah jangkauan yang bisa diraih oleh serentetan solusi. Akan tetapi bila basisnya lebih fundamental, yakni bismirabbik, maka jangkauan solusi akan lebih luas sekaligus dalam. Manusia lebih dimungkinkan untuk sejahtera lahir dan batin, di kehidupan dunia dan setelahnya.
Oleh karena itu perintah iqra' hendaklah terus disandingkan dengan bismirabbik. Agar integralitas solusi terbangun. Secara bertahap, manusia bisa merasakan kehadiran kasih sayang dan kuasa Allah ta'ala di setiap denyut nadi kehidupan.
Wallah a'lam.
Fu'ad Fahrudin

Post a Comment