Tidak Tergoda untuk Ikut Jadi Gila
Hari-hari ini, terutama di platform X, satu isu sedang heboh. Pemicunya adalah konten video dari akun @shifanistt yang menceritakan sang pemilik akun mengalami catcalling. Akan tetapi banyak netizen menyangkal konten video ini. Menurut mereka, tidak terdapat unsur catcalling. Justru konten video itu menunjukkan dua orang bapak yang ramah menyapa.
Debat terjadi. Pihak yang pro dan kontra
saling mengajukan argumentasi. Jumlah akun yang terlibat dalam debat semakin
banyak. Akan tetapi pihak kontra lebih banyak. Semakin terpojoklah pihak yang
pro.
Di kelanjutannya, debat melebar. Aib
sang pemilik akun @shifanistt dibongkar oleh netizen. Tidak hanya aib personal
yang dikuliti. Aib sosial dan finansial juga tidak ketinggalan disingkap. Dalam
hal ini akun @shifanistt diduga kuat terhubung dengan akun @sisterindanger yang
sering mengolok-ngolok aturan Islami dalam berumah tangga. Selain itu, akun
@sisterindanger juga tidak transparan pada laporan keuangan donasi.
Akun @shifanistt juga menyebut nama
salah satu pesantren besar di Indonesia secara eksplisit, tentu saja dengan
ujaran yang sangat merendahkan. Reaksi dari para alumni pesantren tersebut
sudah mulai bermunculan. Sisi luar biasanya, reaksi para alumni masih terbilang
tenang.
Terbongkarlah kedok yang seolah-olah
heroik selama ini, seakan-akan membela perempuan dari berbagai kekerasan.
Ternyata begitu banyak kepalsuan yang disembunyikan. Walaupun bagi sebagian
orang, ini tidak mengherankan. Bagaimanapun pihak-pihak yang tidak suka Islam
sebenarnya menyimpan begitu banyak borok, tapi kemasannya terlihat indah.
Sehubungan dengan itu, satu ayat Al-Qur'an sangat
relevan untuk direnungkan, tepatnya Al-Qur’an surat Al-Qalam ayat 5-6, “Maka kelak
kamu akan melihat dan mereka juga akan melihat, siapa di antara kalian yang
gila.”
Para ulama menafsirkan ayat tersebut
bahwa suatu saat pihak yang gila akan benar-benar jelas. Dalam hal ini
orang-orang beriman tidak gila. Sedangkan orang-orang fasik dan kafir,
merekalah yang gila. Istiqamah di atas jalan kebaikan merupakan satu keharusan
bagi orang-orang beriman.
Sebagai tindak lanjut dari pesan
kedua ayat tersebut, hendaklah orang-orang beriman konsisten pada seluruh
kebaikan. Bukan hanya pada isi kebaikannya tapi juga pada caranya, khususnya
cara kerja dan komunikasi. Keduanya tidak bisa dipisahkan.
Di cara kerja, tidak ada kezhaliman.
Semua pihak ridha. Sementara seputar cara komunikasi, tidak ada celaan. Lelucon
boleh, tapi tetap diarahkan untuk senantiasa sopan.
Memang orang-orang fasik dan kafir
itu menjengkelkan. Bahkan seringkali mereka memancing agar orang-orang baik
marah dan memaki. Sebagian provokasinya halus, sebagiannya sangat kasat mata.
Apabila orang-orang beriman terpancing
lalu menunjukkan perilaku buruk, maka jatuh sudah di jebakan setan. Dikhawatirkan
sejengkal lagi orang-orang beriman ini akan menjadi pengikut setan. Karena
setan tidak hanya menarik manusia untuk menjadi pengikutnya. Dengan menjadikan
manusia berperilaku semirip setan, sedemikian itu sudah cukup bagi setan.
Orang-orang beriman yang paham
jebakan setan semacam ini akan senantiasa waspada. Selain itu mereka
meningkatkan kapasitas diri sehingga bisa bertindak strategis. Energi yang
dikeluarkan relatif sedikit, tapi tindakannya berdampak relatif besar.
Satu lagi, dengan kewaspadaan,
orang-orang baik akan senantiasa mendekat kepada Allah ta’ala. Mereka akan
terus memohon pertolongan-Nya. Mereka yakin hanya Allah ta’ala saja Sang
Penguasa. Apapun bisa terjadi atas kuasa-Nya.
Wallah a’lam.
Fu'ad F

Post a Comment