Integrasi Amanah dan Profesi: Ikhtiar Mengobati Penyakit Korupsi
Asap akibat kebakaran hutan di Kalimantan belumlah hilang. Bahkan di beberapa pulau lain, kebakaran hutan baru saja terjadi. Belum lagi banjir melanda wilayah Bengkulu di Sumatera.
Kekeringan di beberapa daerah bukan isapan jempol. Hampir tidak ada air jika tidak ada bantuan dari luar daerah. Bukan tiada ikhtiar, pengeboran sumur misalkan, itu sudah dilakukan. Apalah daya, situasi tanah tidak memungkinkan terpancarnya air ke permukaan.
Di saat bersamaan tersiarkan berita korupsi di Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Dana korupsi sebesar tiga setengah milyar rupiah telah disita KPK. Selain itu sejumlah uang bervaluta asing, perhiasan, dan aset kripto turut disita. Hati siapa tidak remuk dengan berita tersebut. Bagai pagar makan tanaman, demikian peribahasa mengatakan.
Sungguh jahat apa yang telah mereka perbuat. Di sisi lain dapat dipahami bahwa ketiadaan iman akan mengantarkan insan pada kejahatan. Mereka tidak peduli dampak dari perbuatan mereka. Hanya satu yang diketahui, perut mereka kenyang dan kantong mereka menebal.
Di sini kemudian sebuah kesadaran muncul, yakni pentingnya amanah yang berawal dari iman. Bukan sekedar menjalankan panduan pekerjaan yang sifatnya duniawi saja, tetapi seorang yang amanah akan bekerja diliputi perasaan dan gambaran masa depan hingga ke akherat. Dengan amanah, panduan pekerjaan yang sudah baik akan dijalani. Sedangkan apabila ada kekurangan atau celah kerusakan akibat tidak sempurnanya panduan pekerjaan, maka amanah akan menuntun pemiliknya agar segera memperbaikinya. Supaya tidak ada kerusakan lebih besar di masa depan.
Amanah melahirkan sikap proaktif. Hadir dalam hati sebuah keinginan untuk ikut memperbaiki keadaan. Pangkat bukanlah masalah. Perihal terpenting adalah ikut memperbaiki.
Memang tidak serta merta keinginan untuk memperbaiki keadaan berujung dengan persetujuan. Pihak-pihak yang menentang bakal bermunculan. Kelihaian dalam bergerak, ini sesuatu yang penting sekaligus strategis. Perlu kiranya setiap orang yang ingin melakukan perbaikan untuk menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi. Sehingga konflik yang rumit bisa diantisipasi.
Disadari ada satu persoalan fundamental, yakni amanah belum dijalankan seutuhnya dalam pengelolaan urusan publik. Amanah masih berkisar pada pemenuhan SOP. Aspek pahala dan kebaikan ukhrawi belum banyak diimplementasikan.
Indikasinya pembinaan individual dan kolektif belum merambah pada aspek munajat. Pembinaan iman juga masih minim. Keduanya, munajat dan iman, juga tidak masuk dalam deretan aktivitas yang dinilai dari tiap personel.
Memang tidak semua personel beragama Islam. Uraian yang sudah disampaikan juga tidak ditujukan untuk semua personel, hanya mereka yang beragama Islam. Tidak perlu ada pemaksaan untuk personel beragama lain.
Lebih jauh, korelasi iman dan kualitas kinerja telah banyak dibahas para pakar. Seharusnya material dasar untuk menyusun indikasi kualitas kinerja tidaklah kurang. Tinggal kemauan politis saja yang dibutuhkan.
Sebagai penutup, sudah waktunya kesadaran agama betul-betul dihubungkan dengan aktivitas profesional. Perihal ini berlaku di manapun. Agar kebaikan benar-benar terwujud. Tiada lagi kegilaan yang terpampang di depan mata. Apalagi saat derita orang banyak begitu mengiris hati.
Wallah a’lam.
Fu'ad F

Post a Comment