Header Ads

Lihatlah Semua Lebih Dekat, Semoga Kau Menjadi Bijak


Seiring populernya satu film anak di tahun 2000-an, soundtrack-nya pun turut populer. Ada satu lirik dari soundtrack tersebut yang kemudian bertahan lama, tahun demi tahun bahkan hingga kini, "Lihatlah semua lebih dekat, dan kau akan menjadi bijak."

Secara umum, lirik ini benar. Melihat lebih dekat memberikan kemungkinan yang lebih besar kepada pengamat untuk mendapatkan akurasi. Sehingga penilaian dan penyikapan relatif lebih bijak, lebih relevan.

Betapa banyak fenomena ilusi optik yang hadir di keseharian hidup manusia. Pelangi yang dianggap indah, fatamorgana yang sering membuat kesal, hingga deviasi cahaya pada air gelas yang membuat takjub, semuanya ilusi optik. Aktivitas satu indera telah Allah ta'ala takdirkan untuk menghasilkan beragam persepsi. Subhanallah.

Oleh karena itu, sekali lagi, melihat lebih dekat merupakan opsi yang baik. Semoga akurasi didapat, mata tak tertipu. Hatipun menjadi nyaman.

Kemudian perlu kiranya ditambahkan beberapa hal seputar melihat lebih dekat. Pertama, tentunya, melihat tidak perlu terlalu dekat apalagi sampai menempel ke objek. Katakanlah mata menempel ke objek. Maka objek tak akan terlihat karena mata justru tertutupi objek. 

Melihat terlalu dekat juga beresiko, khususnya pada objek yang memiliki karakteristik ekstrem. Misalkan api atau duri. Mata bisa terluka.

Dalam konteks sosial, melihat dan mendekati orang asing itu beresiko. Maka jaga jarak dibutuhkan. Paling tidak, dialog dibangun perlahan-lahan untuk memastikan karakter orang asing tersebut.

Kedua, melihat lebih dekat akan bermakna jika jelas maksudnya. Misalkan seseorang bermaksud mengamati hewan, maka ia akan mendekati hewan tersebut lalu  memfokuskan pandangannya. Jika diperlukan, pandangannya difokuskan ke bagian tubuh tertentu si hewan.

Sebaliknya, tanpa kejelasan maksud, pandangan sulit menghasilkan makna. Banyak hal dilihat tapi sekedar dilihat. Tidak ada rasa ingin tahu atau aktivitas berpikir dalam. Semuanya berlalu begitu saja.

Ketiga, melihat lebih dekat akan semakin berkualitas bila ada bimbingan orang lain. Bentuknya bisa pernyataan atau pertanyaan, lisan atau tertulis. Sehingga hasil penglihatan bisa diperdalam detailnya untuk kemudian disusun jadi konstruksi pemikiran yang lebih baru dan segar.


Keempat, kebijaksanaan itu karunia Allah ta'ala. Oleh karena itu kebijaksanaan tidak cukup dengan mengamati dan berpikir, tetapi butuh doa serta konsistensi di atas nilai-nilai Islami. Hal ini dikarenakan manusia terdiri dari akal dan perasaan. Keduanya perlu selaras. Akal dipertajam dengan pemikiran, sedangkan perasaan dengan konsistensi terhadap nilai-nilai Islami.

Pada akhirnya, melihat lebih dekat dianjurkan di banyak ayat Al-Qur'an. Agar keagungan ilahiyah tertangkap indera. Sehingga motivasi berbuat baik lillahi ta'ala semakin kuat.

Wallah a'lam.
Diberdayakan oleh Blogger.