Pemimpin itu Mandiri Belajar, Tidak Hanya Mengandalkan Kegiatan Klasikal
Dalam sebuah film Korea berlatar waktu kerajaan era klasik, tokoh pangeran mengatakan, "Pemimpin itu harus bisa melihat apa yang tidak terlihat, dan mendengar apa yang tidak terdengar."
Maksudnya seorang pemimpin butuh menjadi figur yang peka dengan keadaan orang-orang yang dipimpinnya. Dengan melihat situasi di sekitarnya, sang pemimpin sudah bisa mengambil kesimpulan awal. Kemudian ia melakukan pendalaman serta konfirmasi yang dibutuhkan.
Setali dua uang dengan kepekaan, Allah ta'ala telah memberikan karunia kepada manusia berupa intuisi. Dengan intuisi, manusia bisa langsung memiliki pemahaman awal terkait situasi yang sedang terjadi di sekelilingnya. Pemahaman awal ini penting agar pengambilan sikap dan keputusan tepat.
Intuisi sendiri lahir dari pengalaman yang panjang disertai dengan proses belajar berkelanjutan. Ya, terus praktik dan belajar, keduanya dilakukan sekaligus. Tidak ada dikotomi antara praktik dengan belajar. Keduanya justru saling menguatkan.
Dalam konteks seorang pemimpin, sebagaimana telah disampaikan, intuisi kepemimpinannya akan terus tajam manakala praktik dan pengetahuan selalu dipertemukan. Saat teori baru didapatkan, teori tersebut diaplikasikan perlahan dalam aktivitas hariannya. Penyesuaian-penyesuaian dilakukan. Lalu dilakukan tinjauan, seberapa efektif teori tersebut dalam meningkatkan kualitas kepemimpinan.
Di saat bersamaan, praktik kepemimpinan yang dijalani akan mendapatkan tinjauan mandiri (self-review) dari sang pemimpin. Agar praktik kepemimpinan selama ini dipastikan relevan secara ilmiah. Sehingga kerusakan akibat praktik kepemimpinan menjadi nol, bahkan membuahkan manfaat berkelanjutan.
Dengan demikian hendaklah para pemimpin memiliki jiwa belajar mandiri. Membaca buku dan memirsa ahli merupakan dua cara praktis kekinian yang bisa rutin dilakukan seorang pemimpin. Selanjutnya hasil belajar dari membaca dan memirsa tersebut dikonfirmasi lewat kegiatan belajar klasikal seperti seminar dan pelatihan.
Dapat dipahami kemudian bahwa kegiatan belajar klasikal bukanlah obat instan atas masalah-masalah yang dihadapi seorang pemimpin. Kegiatan-kegiatan itu merupakan tempat konfirmasi, apakah yang dipelajari secara mandiri selama ini sudah benar? Apakah kerangka berpikir yang sudah terbentuk di kepala sang pemimpin itu cukup kuat untuk memproduksi solusi-solusi? Apakah ada cara baru untuk mengembangkan hasil belajar?
Menempatkan kegiatan belajar klasikal sebagai obat instan berkemungkinan mengantarkan sang pemimpin pada kekecewaan. Bagaimanapun durasi kegiatan belajar klasikal tidaklah panjang, sementara kehidupan nyata berlangsung sangat panjang. Masalah-masalah datang hampir tanpa jeda.
Alih-alih menjadikannya sebagai obat instan, bagaimana jika kegiatan belajar klasikal justru dijadikan awal pembelajaran atas materi baru? Buku-buku dan tayangan yang berkaitan dengan materinya dilahap habis. Setelah itu refleksi dilakukan untuk menyatukan seluruh hasil belajar. Berikutnya implementasi terbatas dilakukan, ditinjau efektivitasnya.
Siklus belajar-refleksi-implementasi-tinjauan senantiasa dilakukan sang pemimpin. Semoga ada pengembangan dan kebaruan yang digapai. Sehingga relevansi pengetahuan dan lapangan sedemikian kuat.
Apalagi jika coaching dilakukan. Hasil belajar hampir dipastikan lebih akurat. Akhirnya relevansi menjadi lebih baik kualitasnya.
Sebagai penutup, seorang pemimpin pada akhirnya diberi dua pilihan besar: Terus belajar atau dikondisikan untuk belajar.
Terus belajar itu pilihan aktif. Hasilnya, insya Allah, akan sangat baik dan berdampak. Energi yang dibutuhkan juga tidak terlalu banyak. Tantangannya pada istiqomah, seorang pemimpin diharapkan punya hasrat belajar yang tak pernah mati.
Sementara dikondisikan untuk belajar itu pilihan pasif, sifatnya dipaksa. Sang pemimpin mungkin tidak suka. Benturan yang dirasakan juga mungkin sangat keras.
Pilihannya terserah pada sang pemimpin. Terus belajar berarti terus mengasah intuisi kepemimpinan. Masa gemilang kepemimpinan berkemungkinan masih amat panjang. Sebaliknya dikondisikan belajar berarti ada kemungkinan sandikala kepemimpinan sudah di depan mata. Detik-detik shut down sudah terasa detakannya.
Pemimpin sejati paham jawabannya.
Wallah a'lam.
Fu'ad F



Post a Comment