Header Ads

Bukan Kader 'Sumbu Pendek'

'Sumbu pendek' itu istilah untuk orang yang gampang marah atau putus asa. Asal ada sesuatu yang membuat tidak nyaman, orang itu segera bereaksi negatif dengan cara menarik diri dan menolak komunikasi sehat. "Terserah kamu saja, aku nggak peduli," kurang lebih begitu pesan yang ingin disampaikannya.

Sumbu pendek, secara ringkas, muncul dari belum matangnya seseorang. Mungkin dia belum terbiasa mengumpulkan info atau pengetahuan yang cukup sebagai bahan pertimbangan dalam merespon. Mungkin juga dia belum memiliki daya nalar yang kuat untuk menghasilkan kesimpulan relevan. Mungkin juga emosinya masih meledak-ledak, apa saja dilabrak tanpa peduli akibatnya. Bahkan bisa saja ketiga kemungkinan tersebut muncul bersamaan, saat itu situasi jadi jauh dari nyaman.


Oleh karena itu telaah butuh dilakukan, sisi mana yang paling dominan dari seseorang hingga menjadi sosok sumbu pendek. Apabila dia belum terbiasa mengumpulkan pengetahuan yang cukup, maka terapinya adalah pendampingan untuknya supaya rajin dan telaten dalam mengumpulkan pengetahuan. Bahkan saat belum terlalu dibutuhkan, suatu pengetahuan tetap dikumpulkan. 

Dia diajari tentang belajar efektif. Agar pengetahuan bisa dikumpulkan sebanyak-banyaknya secara tepat. Lama-kelamaan perbendaharaan pengetahuannya menjadi luas dan dalam.

Apabila dia belum memiliki nalar yang kuat, maka terapinya adalah latihan nalar. Dialog jalan utamanya. Memirsa dialog juga alternatif yang bisa dipertimbangkan.

Semoga melalui aktivitas dialog yang intensif dilakukan, seseorang mampu membangun korelativitas dalam pikirannya. Hubungan satu hal dengan hal lainnya dipahami secara tepat. Sehingga terbangun satu proses berpikir runtut, dengan indikasi bisa digunakan kembali di situasi yang hampir mirip.

Apabila dia belum memiliki emosi yang stabil, maka terapinya adalah membangun kendali diri. Dalam hal ini motivasi, pengetahuan, dan keterampilan dibutuhkan sekaligus. Agama dengan berbagai amaliahnya bersifat urgen. Bantuan pembimbing bahkan ahli, jika diperlukan, hendaklah tidak diabaikan.

Semakin penting peranan seseorang bagi orang-orang sekitarnya, maka semakin tinggi kebutuhannya untuk jadi sosok matang. Bahaya sekali jika keputusan buruk diambilnya lalu berdampak luas, banyak orang terkena akibatnya. Keamanan dan kenyamanan dipertaruhkan.

Demikian pula di konteks kaderisasi, seorang kader organisasi butuh menjadi sosok yang matang. Karena, cepat atau lambat, ia akan mendapat penugasan. Dengan kematangan diri yang baik, semoga penugasan diselesaikan secara tuntas.

Di sisi lain interaksi di organisasi kadang menimbulkan ketegangan. Kematangan diri akan mengantarkan sang kader untuk tetap tenang menghadapinya. Sehingga pendekatan-pendekatan lebih mungkin dilakukan. Semoga tidak lama hubungan antarpersonal cair kembali.

Apalagi dalam memimpin kader-kader lain, kematangan diri semakin dibutuhkan. Agar keseimbangan antara hubungan sosial dan target kegiatan berjalan seiringan. Kader-kader yang dipimpin senantiasa bahagia, secara bersamaan target kegiatan juga tergapai.

Harus diakui menjadi kader yang matang alias tidak sumbu pendek itu berat. Banyak energi dibutuhkan, begitu juga sumber daya. Di sisi lain ada kebahagiaan kader dalam pengorbanannya, sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh seorang pejuang kebaikan.

Wallah a'lam.


Fu'ad F
Diberdayakan oleh Blogger.