Tidak Hanya Siap Sukes, Siap Gagal itu Baik
Masyhur diketahui dan juga diucapkan banyak orang, roda kehidupan terus berputar, kadang di atas dan kadang di bawah. Ada juga versi candanya: Kadang roda di atas, kadang di bawah, dan kadang di bawah sekali. Begitu dinamis situasi hidup manusia.
Oleh karena itu setiap orang perlu menyiapkan banyak hal. Salah satunya, sebagaimana dirumuskan oleh Dr. Ridwan Saputra, merencanakan kegagalan. Maksudnya setiap orang perlu bersiap berada di titik nadir, titik rendah dalam hidupnya.
Bukan berarti seseorang tidak boleh memimpikan kesuksesan. Akan tetapi ia perlu sadar bahwa takdir itu dinamis. Kemungkinannya luas.
Dengan seseorang menyadari bahwa kegagalan bisa datang kapan saja, semoga hatinya tidak galau saat musibah bahkan kegagalan datang. Di sisi lain saat kesuksesan di tangan, ia biasa saja. Karena sesungguhnya sukses itu karunia Allah ta'ala.
Tidak mudah bagi seseorang bersikap siap gagal. Bagaimanapun kebanyakan orang dibesarkan di lingkungan yang mendambakan dan mendidikkan keberhasilan. Jarang sekali keluarga atau komunitas menumbuhkan mentalitas siap gagal. Bahkan tidak jarang kegagalan menjadi awal dari cemoohan yang menyakitkan.
Mungkin ada pihak yang menyangka bahwa bersiap gagal itu berarti toleran terhadap kemalasan. Maksudnya tidak seperti itu. Lebih tepatnya adalah pentingnya seseorang terus berusaha sekuat mungkin, tapi selalu membuka peluang untuk terjadinya kegagalan.
Ada dorongan dan doa untuk sukses. Di sisi lain ada tangan yang senantiasa siap memeluk saat kegagalan itu menimpa. Tangan itu juga siap mengusap air mata bahkan darah yang mengalir.
Sebagai ikhtiar agar kegagalan tidak terlalu menyakitkan, rencana cadangan penting untuk disiapkan. Mungkin tidak semenarik rencana awal, tetapi semoga tujuan masih tergapai. Sebagian yang diharapkan, sedikit atau banyak, bisa diraih.
Dalam hal ini penting bagi setiap orang meluaskan pengetahuannya. Tujuannya terbangun banyak opsi di pikirannya. Semoga aneka opsi tersebut menjadi jalan rezeki yang tidak disangka-sangka.
Dengan meluaskan pengetahuan juga, setiap orang diantarkan untuk menyusun prioritas yang relatif tepat. Apa yang tingkat kegagalannya harus kecil, apa pula yang harus besar, tidak akan ada kesalahan. Misalkan menghindari neraka, kegagalannya sebisa mungkin nol. Nanti surga mana yang ditempati, tidak terlalu jadi masalah.
Merencanakan kegagalan merupakan satu proses panjang dalam hidup. Terus meningkatkan kapasitas diri itu kunci. Jangan berpikir untuk berhenti, terkecuali jika Allah ta'ala telah menetapkan satu titik henti untuk diri dengan tertutupnya mata.
Wallah a'lam.

Post a Comment