Mencari dan Merawat Teman Berpikir
Salah satu kenikmatan yang Allah ta'ala berikan di dunia ini adalah teman berpikir. Ia menjadi cermin yang jujur. Sehingga banyak hal terlihat jernih. Keputusan tepat lebih mudah diambil. Hasilnya hidup penuh dengan kebaikan.
Dikarenakan teman berpikir itu satu karunia besar, maka mencarinya kadang sulit. Ikhtiar yang kuat mesti dilakukan. Demikian pula sebagian sumber daya, seperti uang, perlu dikeluarkan.
Selain itu tidak setiap teman berpikir mampu bertahan untuk terus bersama melintasi waktu. Bukan benci atau konflik yang selalu jadi penyebab perpisahan. Bahkan dapat dikatakan perpisahan yang berawal kebencian atau konflik, jumlahnya relatif sedikit. Sebagian besar penyebabnya adalah pilihan yang berbeda.
Sebagaimana diketahui, semakin dewasa seseorang, semakin besar pula tantangan untuk fokus di satu jalan hidup. Misalkan fokus pada keluarga. Sehingga pilihan untuk menjauh dari komunitas awal harus dipilih. Sekali lagi, bukan karena benci atau konflik, tapi fokus yang mesti dipilih.
Oleh karena itu hendaklah satu dasar pertemanan dipahami sebaik-baiknya. Mungkin uang atau hal material lainnya bisa menjadi dasarnya. Akan tetapi, sebagaimana dapat dipahami secara seksama, ada dasar yang lebih kokoh.
Betul, ada kesamaan. Mungkin kesamaannya pada orientasi, mungkin kesamaan tingkat berpikir, atau sekedar kesamaan gaya lelucon. Intinya ada pengikat yang sifatnya immaterial, mental bahkan ruhiyah.
Kabar baiknya kesamaan ini bisa direkayasa. Caranya dengan seseorang memperjelas figur dirinya. Misalkan seseorang ingin teman berpikir yang cerdas, maka ia perlu meningkatkan kecerdasan dirinya. Sehingga ia cerdas dan dikenal sebagai orang cerdas. Semoga akan datang teman berpikir yang cerdas juga.
Setelah pertemanan terjalin, langkah berikutnya adalah ikhtiar merawat pertemanan tersebut. Saling bicara, saling memberi masukan, dan sama-sama terus belajar merupakan tiga ikhtiar dasarnya. Mungkin terkesan rumit, tapi sebenarnya biasa saja. Karena ketiga aktivitas tersebut dapat menyatu dengan aktivitas sehari-hari.
Sebagai argumentasi terhadap pentingnya kesamaan dalam pencarian teman berpikir, sebuah hadits riwayat Bukhari dapat dipertimbangkan, "Ruh-ruh itu ibarat tentara yang terlatih untuk bersatu. Apabila mereka saling mengenal, maka akan saling mendekat. Apabila mereka saling asing, maka akan saling menjauh."
Kesamaan sebagai dasar membentuk jalinan teman berpikir berlaku di mana saja. Menikah atau berkeluarga butuh teman berpikir, maka mencari pasangan yang relatif sama perlu diupayakan, dikenal dengan istilah 'sekufu'. Begitu juga di lingkungan tempat tinggal, organisasi, ataupun kantor.
Kesamaan tidak bisa dipaksakan. Jika memang sudah berbeda, biarlah berbeda. Mungkin jalinan pertemanan yang terbentuk sekedar teman ngobrol, tidak bisa sampai ke teman berpikir. Akan tetapi tetap ini satu karunia.
Wallah a'lam.

Post a Comment