Header Ads

Membangun Empati di Keluarga dan Kelas untuk Menguatkan Interaksi di Media Sosial

Salah satu kekhawatiran yang muncul seiring perkembangan media sosial adalah menipisnya empati. Ucapan buruk bahkan jorok begitu mudah keluar. Agresi kepada pihak lain dianggap perbuatan biasa, tidak peduli itu menyakitkan.


Akhirnya ruang virtual menjadi ruang yang menyuburkan penyakit mental. Tidak cukup satu atau dua, penyakit mental yang muncul di ruang virtual begitu beragam. Repotnya berbagai penyakit mental tersebut kemudian dipindahkan ke ruang nyata. Akhirnya kehidupan sehari-hari menjadi bermasalah, baik secara pribadi ataupun sosial.

Oleh karena itu perlu kiranya orangtua dan para pendidik mengedepankan empati dalam pendidikan. Anak dilatih untuk berbahasa sopan di media sosial. Apabila diserang, sang anak dilatih bertahan dengan pertahanan yang asertif.

Wujud pembinaan empati bukan dengan mengadakan sesi tersendiri tetapi mengintegrasikannya ke dalam aktivitas yang sudah berjalan seperti biasa. Sehingga energi dan sumber daya khusus tidak perlu diadakan. Semuanya berjalan seiring.

Integrasi yang dimaksud adalah memasukkan empati dalam penilaian. Didasarkan pada framework Six Facet of Understanding (McTighe & Wiggins, 1998), empati menjadi salah satu indikasi pemahaman, tidak cukup hanya memberikan jawaban atas pertanyaan. Apalagi pertanyaan yang diajukan berkisar di level kognitif bawah.

Secara praktis, empati dieksplorasi dengan berbagai teknik: Pertanyaan lisan, tertulis, dan pengamatan.

Lebih baik jika pertanyaan yang diajukan bersifat terbuka. Agar empati anak bisa dieksplor lebih dalam. Sehingga pemahamannya lebih tergambar. 

Lebih jauh, waktu terbaik untuk mengeksplorasi empati anak perlu ditentukan secara seksama. Hal ini penting agar anak tidak merasa diinterograsi. Pada akhirnya anak akan menutup diri. Jika pun tidak, anak hanya menjawab dengan jawaban normatif.

Di keluarga, salah satu waktu terbaik untuk mendalami empati anak adalah saat anak sedang merasa bahagia. Mungkin sang anak sedang berprestasi atau mendapatkan sesuatu yang menyenangkan. Tanya-jawab mendalam di momen tersebut semoga berlangsung dengan lancar, tidak dibayangi perasaan tertekan.

Di kelas, waktu terbaiknya juga sama, yakni saat anak bahagia. Waktu lainnya adalah di tengah pembelajaran. Anak diminta menyampaikan pendapatnya terhadap materi pembelajaran. 

Satu hal lagi yang urgen untuk diperhatikan terkait eksplorasi empati ini adalah cara bertanya orangtua/pendidik. Sangat baik untuk pertanyaan diawali dengan apresiasi kepada anak. Berikutnya dilakukan pendalaman.

Dengan seluruh uraian ini, semoga empati anak senantiasa tumbuh subur. Interaksi sosialnya berkualitas baik. Ia inspiratif dan kontributif bagi lingkungannya.

Wallah a'lam.
Diberdayakan oleh Blogger.