Header Ads

Sensitivitas Gen Z dan Alpa tentang Keadilan: Tantangan bagi Orangtua dan Pendidik agar Lebih Progresif

Internet telah menciptakan dunia yang setara, dalam artian semua orang bisa memasok dan menggunakan sesuatu. Semua orang juga bisa saling mengomentari, meskipun kadang harus diakui terjadi ketidaksopanan. Komentar yang dilontarkan bersifat merendahkan. Mirisnya lagi komentar tersebut keluar dari orang yang bukan ahli kepada figur ahli.


Salah satu penyebab mendasar dari serangkaian fenomena tersebut adalah kekurangpahaman terkait esensi keadilan. Bahwa sering keadilan dimaknai dengan kesetaraan. Padahal jika Al-Qur’an ditelaah, maka ditemukan sesuatu yang kompleks. Ketika kompleksitas ini dipahami, semoga interaksi di dunia nyata dan maya dapat berlangsung lebih sopan sebagai cerminan manusia beradab.

Dalam Al-Qur’an ada dua kata yang mengandung konsep keadilan, al-‘adlu dan al-qisthu. Menurut sejumlah referensi, al-‘adlu lebih umum sementara al-qisthu lebih khusus. Sebagian referensi menyampaikan bahwa al-‘adlu bersifat maknawi (konseptual) sementara al-qisthu praktis.

Salah satu ayat yang menggunakan kata al-qisthu adalah ayat 9 surat Ar-Rahman, “Dan tegakkanlah neraca itu dengan adil dan janganlah kalian mengurangi neraca itu.”

Sebenarnya dari ayat dan istilah ini saja, banyak pelajaran tentang keadilan dapat diperoleh, utamanya tentang variabel. Neraca, sebagaimana umumnya, memiliki dua piring/mangkok. Keduanya perlu seimbang. Variabel penyeimbangnya tidak hanya dua benda yang sama persis, bisa jadi berbeda asalkan hasil akhirnya seimbang. 

Demikian pula dalam hal keadilan di kehidupan nyata, variabelnya mungkin kompleks. Oleh karena itu membangun pemahaman keadilan tidak bisa sekedar sosialiasi aturan, tetapi ada penjelasan yang memadai. Bahkan jika memungkinkan ada semacam naskah kajian yang kemudian boleh ditelaah dan diberi masukan oleh ahli.

Adapun pelajaran yang lebih jauh tentang keadilan dari ayat-ayat lain, mungkin artikel lainnya akan menuliskannya. Penjelasan utuh dan interkoneksi diperlukan. Selembar artikel tentu tidak memadai. 

 

Duduk dan Bincang dengan Gen Z dan Alpha tentang Keadilan

Gen Z dan Alpha dua generasi yang terpapar internet sedemikian dalam. Akhirnya kedua generasi ini memiliki sensitivitas yang lebih tinggi ketimbang generasi terdahulu mereka. Di sisi lain pergaulan sosial kedua generasi ini tidak cukup konkrit, minimal dibanding generasi sebelumnya, untuk menyerap makna dan prinsip keadilan dari kehidupan nyata. Situasi tersebut diperparah dengan ketahanan baca setiap orang yang umumnya mulai melemah.

Perihal ini kemudian menjadi tantangan bagi para pendidik, terutama orangtua dan guru. Perlu kiranya ada pemahaman yang progresif tentang keadilan itu sendiri dan proses menyampaikannya secara efektif kepada generasi muda. Agar mereka memiliki gambaran utuh sekaligus aplikatif.

Hal ini dikarenakan generasi muda, sebagaimana telah disampaikan, akan lebih banyak menyuarakan masalah keadilan. Secara spesifik, lembaga pendidikan tingkat menengah harus lebih bersiap dengan suara-suara kritis peserta didiknya. Dalam hal ini duduk dan bincang setara lebih diutamakan ketimbang pendekatan doktrin. Jauh lebih bagus jika aktivitas ini dilakukan secara proaktif dan berkala, tidak menunggu adanya isu.

Tidak kalah penting adalah pola komunikasi. Sangat baik jika setiap masukan dari peserta didik diperdalam, minimal dikonfirmasi terlebih dulu, ketimbang langsung menepisnya. Hal ini berpotensi menimbulkan rasa tidak nyaman pada diri peserta didik.

Apabila perasaan tidak nyaman tersebut terakumulasi, besar kemungkinan peserta didik akan diam. Namun dalam diamnya, peserta didik melakukan gerakan protes tak terlihat. Tiba-tiba lembaga pendidikan merasakan akibatnya, yakni tidak lagi diminati generasi muda.

Mungkin tidak sesederhana itu. Akan tetapi seiring perkembangan psikologi komunikasi di masyarakat, semoga pengelola lembaga pendidikan semakin memberikan atensi pada isu keadilan. Tujuan utamanya bukan sekadar memenuhi kursi-kursi di kelas, tapi menyemai generasi muda yang memahami dan mengaplikasi keadilan dengan bimbingan wahyu. Agar mereka ke depan menjadi pembela Islam dan kaum muslimin.

Wallah a’lam.   


Fu'ad F

Diberdayakan oleh Blogger.