Bukan Tidak Pintar tapi Tidak Relevan (Merawat Kepemimpinan agar Terus Diperhitungkan)
Tidak ada rasa bosan untuk mengutip pernyataan Buya Malik Ahmad dalam Tafsir Sinar. Dalam menafsirkan ayat keempat surat Al-Qalam, beliau menyampaikan beberapa kategori orang besar. Salah satunya orang besar di satu masa lalu menurun kebesarannya.
Beliau tidak menguraikan sebab penurunan kebesaran seseorang yang terjadi seiring waktu. Karena memang bukan itu fokus beliau. Justru para pembaca yang berkewajiban untuk menggali lebih dalam.
Mari mulai.
Ya, telah terjadi irrelevansi. Seorang tokoh yang tadinya dinilai bisa memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan dan kebutuhan, kini tidak bisa lagi. Jangankan menjawab, untuk sekedar memahami suatu pertanyaan atau kebutuhan, sang tokoh tidak mampu. Akhirnya terjadi ketidaksambungan antara sang tokoh dengan komunitasnya, bukan hanya kognisi tapi juga emosi. Perlahan akhirnya sang tokoh terpisah dari komunitasnya.
Seandainya sang tokoh melakukan antisipasi, mungkin kesambungan masih terjadi. Dalam hal ini sang tokoh intensif melakukan dialog dengan komunitas, sembari mengamati lingkungan eksternal. Sehingga perkembangan di dalam komunitas tetap diikuti.
Problem yang sering terjadi adalah kenyamanan sang tokoh. Dialog jarang dilakukan. Sementara perspektif sang tokoh tidak terlihat disegarkan melalui observasi dan eksplorasi pengetahuan mutakhir. Berakhirlah sang tokoh di buble-nya.
Apabila sudah terjadi seperti ini, yakni sang tokoh dengan komunitas sudah tidak terhubung, sangat baik jika sang tokoh melakukan perbaruan sikap. Jika dulu banyak menjawab, sekarang sang tokoh banyak bertanya. Jika dulu banyak didatangi, sekarang sang tokoh banyak mendatangi. Kesetaraan dan saling mendengar lebih diutamakan. Senioritas-yunior ditepikan dulu.
Sang tokoh bisa membuat tim. Akan tetapi sang tokoh tetap perlu melakukan perbaruan sikap. Karena sikap ini menjadi spirit pergerakan tim ke komunitas. Jika kesetaraan tidak dihadirkan di tim, maka tim masih membawa spirit lama. Dampaknya kemungkinan akan sama: Ketidaksambungan dengan komunitas.
Dinamika zaman terus bergulir. Disrupsi dimana-mana sedang berlangsung. Dia yang siap melayani dan memberi manfaat berpeluang untuk tetap survive, sebagaimana firman Allah ta'ala dalam Q.S. Ar-Ra'd ayat 17, "Buih akan hilang tidak berguna, sedangkan yang bermanfaat bagi manusia akan menetap di dalam bumi."
Wallah a'lam.
Fu'ad F

Post a Comment