Header Ads

Fleksibilitas Mental Menuju Sukses



Setiap pagi mengawali aktivitas harian, hampir semua orang memandang langit untuk mengamati cuaca. Setelah itu sejumlah agenda dalam sehari biasanya langsung tergambar dalam benak. Di pagi hari agenda A dikerjakan, di siang B, dan seterusnya. 

Sebagian orang yang memiliki keluasan tidak lupa membuat agenda cadangan. Apabila agenda A tidak jadi dilakukan di pagi hari, maka agendanya adalah D. Agar jika perubahan kondisi, aktivitas bisa terus berlanjut. 

Di sisi lain ada orang-orang yang Allah ta'ala uji dengan ketiadaan keluasan opsional. Aktivitas mereka cenderung tunggal dalam setiap harinya. Hal ini dikarenakan mereka tidak punya sumber daya lain untuk bisa memilih. Mereka ditekan oleh kebutuhan ekonomi yang sedemikian mendesak. Jika aktivitas itu tidak dilaksanakan, maka hari itu mungkin tidak akan ada sesuap nasi masuk ke mulut.

Situasi yang seperti ini perih. Tentu penyikapan idealnya sudah dipahami, yakni ridha dengan ketentuan Allah ta'ala. Dalam hal ini tidak perlu ada perdebatan. Mereka yang memiliki kesulitan ekonomi sudah cukup paham dan terbiasa menjalani. Justru sebagian orang yang memiliki keluasan opsional terkadang diuji keridhaannya. Saat realitas tidak sesuai dengan perencanaan, tidak jarang perilaku negatif muncul sebagai respon.

Orang-orang jenis ini bukan tidak paham teori ridha. Akan tetapi ambisi yang terlalu kuat terhadap target kadang membuat lupa untuk fleksibel. Adanya cuma satu: Kejar target.

Saat sesuatu terjadi di luar rencana, tidak jarang orang-orang jenis ini mengalami stres. Sumpah serapah disemburkan. Para staf terkena marah. Situasi mencekam.

Dalam kondisi stres, pelajaran dan peluang-peluang tak langsung tergambarkan. Beberapa saat diperlukan agar diri tenang. Setelahnya baru aneka hikmah dapat digapai.

Kiranya satu ayat perlu digarisbawahi, tepatnya Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 216, "Maka bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian. Dan bisa jadi kalian mencintai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian."

Para mufassir memberi gambaran bahwa ayat ini bersifat umum, walaupun konteksnya perang. Maksudnya, kandungan ayat ini bisa digunakan di tiap situasi termasuk situasi yang relatif tidak menyenangkan. Bahkan Al-Qurthuby dalam tafsirnya menukil petuah Hasan Al-Bashri rahimahullah, "Janganlah kalian membenci kesulitan yang sedang dihadapi. Bisa jadi ada kesuksesanmu di sana."

Selain kesiapan mental, kesiapan teknis juga penting disiapkan. Agar saat situasi berubah, dukungan teknis bisa penuh. Perubahan rencana yang gesit mudah dijalankan. Jika satu sukses terlewat, sukses lain siap diraih. Bukan dengan kejengkelan, tapi ridha dan yakin kepada-Nya yang jadi bahan bakarnya.

Wallah a'lam.
Diberdayakan oleh Blogger.