Kesejahteraan Ilmiah dan Jasadiyah
Al-Qur'an
surat Al-'Alaq ayat 3-5 menyampaikan, "Bacalah dan Tuhanmu Yang Maha
Pemurah. Dia yang mengajar manusia dengan perantaraan qalam (pena). Dia mengajari
manusia apa-apa yang tidak diketahuinya."
Para
mufassir sepakat, baca-tulis merupakan awal perbaikan kehidupan. Prosesinya
dilakukan melalui aktivitas pengajaran. Ada yang mengajar dan diajar,
menuliskan dan menulis ulang.
Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar,
misalkan, menafsirkan ayat ini, "Itulah keistimewaan Allah. Itulah
kemuliaan-Nya yang tertinggi. Yaitu diajarkan-Nya kepada manusia berbagai ilmu.
Lebih dahulu Allah mengajar manusia mempergunakan qalam. Sesudah dia pandai
mempergunakan qalam itu, banyaklah ilmu pengetahuan diberikan oleh Allah
kepadanya.”
Menariknya
di rangkaian ayat ini, yang merupakan satu bagian dari wahyu pertama, Allah
ta'ala menerangkan kemahapemurahan-Nya dengan mengajarkan ilmu. Tidaklah Allah
ta'ala menyampaikan sebagai pemberi rezeki, misalkan. Hal ini menjadi isyarat
tentang pentingnya ilmu.
Tidak
berarti rezeki itu sifatnya sepele. Karena ilmu juga rezeki. Akan tetapi rezeki
berupa ilmu, sebagaimana telah disampaikan, diperlukan untuk perbaikan kualitas
hidup. Sementara rezeki lain, terpenting adalah makanan, dibutuhkan untuk menyambung hidup.
Adapun
perbaikan kualitas hidup yang dimaksud, sifatnya mendasar sekaligus menyeluruh.
Ada fondasi yang dibentuk sebagai penopang. Kemudian ada bangunan sebagai
pelindung.
Dengan
fondasi yang benar, seseorang mengetahui awal dan orientasi hidupnya. Sehingga
ia tahu apa yang perlu jadi motivasi terbesarnya. Selain itu ia tahu prioritas
hidup yang benar. Fondasi itu bernama iman.
Sementara
dengan bangunan yang melindungi, seseorang tahu apa yang menumbuhkan serta apa
yang menghancurkan kebaikan. Halal dan haram senantiasa diperhatikan. Bangunan
tersebut bernama syariat.
Iman serta
syariat yang dijalankan konsisten dan konsekuen membuka banyak peluang kebaikan
hidup. Aspek ruhiyah diperhatikan. Sementara aspek jasadiyah yang mendukungnya
dicukupi sekuat tenaga.
Keluarga,
komunitas, bahkan negara yang ingin meningkatkan kualitas hidup mereka
senantiasa memperhatikan pendidikan. Memang hasilnya tidak langsung terlihat.
Meskipun demikian, dengan strategis yang cermat, sektor pendidikan bisa menjadi
penggerak kesejahteraan ekonomis.
Apabila
diperlukan, perbaikan gizi para pelajar diintervensi. Catatannya dana untuk
pendidikan tidak terganggu. Selain itu sasarannya perlu tepat, salah satunya
tepat usia.
Jika perbaikan
gizi dilakukan gegabah, dikhawatirkan perbaikan pendidikan tidak bejalan baik. Harapan
yang sudah dicanangkan terancam gagal. Kualitas hidup berpotensi menurun.
Bencana generasi masa depan tidak mustahil segera menggulung aneka kebaikan
yang mungkin telah tumbuh sebelumnya.
Wallahu a’lam.

Post a Comment