Gagasan Pemuda Yang Melintasi Waktu dan Ruang
Seorang pemuda bernama Ibrahim dicari oleh penguasa atas dakwaan menghancurkan patung-patung sembahan. Singkat cerita, iapun tertangkap, diadili, dan menerima hukuman. Tidak main-main, hukumannya ia dibakar hidup-hidup. Gundukan kayu disiapkan, api dikobarkan, lalu ia dimasukkan ke dalamnya.
Atas karunia Allah ta'ala, api itu tidak membakar Ibrahim 'alaihissalam. Api itu dingin. Iapun sehat wal afiat setelah dimasukkan ke dalam api.
Jauh sebelumnya Ibrahim 'alaihissalam resah. Dia bertanya-tanya, siapa Tuhan yang layak disembah. Bulan ditatapnya dan mentari dipikirkannya, namun tiadalah kepuasan dan kemantapan dalam hatinya. Hingga akhirnya dia memasrahkan dirinya kepada Tuhan yang sebenarnya.
Akhirnya petunjuk (hidayah) datang kepada Ibrahim 'alaihissalam. Hatinya tercerahkan. Tak butuh lama, dia mendakwahkan keyakinannya.
Selain dakwah, Ibrahim 'alaihissalam melakukan tindak nyata. Patung-patung sembahan kaumnya dihancurkannya, kecuali patung yang paling besar. Ada rencana yang disusunnya, yakni mengajak kaumnya untuk berpikir lewat diskusi.
Saat diadili, Ibrahim 'alaihissalam ditanya, "Apakah kamu yang menghancurkan patung-patung sembahan?"
Dengan tenang, ia menjawab, "Patung besar itu yang melakukannya."
Akan tetapi kaumnya tidak mau mendengarkan Ibrahim 'alaihissalam. Segera mereka memerintahkan eksekusi hukuman. Uniknya mereka berkata, "Tolonglah tuhan-tuhan kalian jika kalian benar-benar ingin melakukannya."
Demikian Al-Qur'an surat Al-Anbiya menceritakan sebuah kisah dan kiprah anak muda bertauhid. Resah, inisiatif, cerdik, argumentatif, dan kokoh merupakan sejumlah sifat yang terkumpul pada dirinya. Sifat-sifat ini mengantarkannya pada satu titik keberanian yang luar biasa. Sejarah mencatatnya dengan tinta emas.
Luar biasanya Ibrahim 'alaihissalam terus konsisten dalam semangat tauhidnya. Berbagai ujian yang Allah ta'ala kirimkan kepadanya dapat dilalui dengan baik. Puncaknya ia diangkat sebagai khalil dan imam.
Luar biasanya lagi, Ibrahim 'alaihissalam memiliki visi lintas zaman. Oleh karenanya ia meminta kepada Allah ta'ala agar anak keturunannya juga mendapat kemuliaan sebagaimana dirinya. Permintaannya dikabulkan dengan catatan, hanya keturunan yang shaleh berpotensi menjadi pemimpin sejati. Maknanya ia wajib membentuk pola bahkan sistem pembinaan berkelanjutan agar anak keturunannya mewarisi kualitas ketauhidan serta kepemimpinannya.
Hasilnya sangat mencengangkan. Lintas waktu dan tempat, visi Ibrahim 'alaihissalam terus menjelajah. Tidak sekedar itu, visinya ikut memahat perikehidupan insan hingga kini. Bahwa namanya tidak sekedar nama, tapi ditempatkan sebagai salah satu sumber inspirasi.
Dari sinilah para pemuda Islam perlu bertolak. Berawal dari tauhid dan gerakan, selanjutnya transformasi dilakukan, minimal pada transformasi peran. Tidak ada stagnasi pada diri, justru terus berkembang seiring waktu.
Di titik awal seorang pemuda mungkin berperan sebagai penggagas dan penggerak. Seiring waktu ada perjalanan yang lebih jauh untuk ditapaki, hingga tiba di titik bertajuk ideolog. Di titik ini ia mengokohkan sistem berpikir dan kaderisasi. Agar perluasan terjadi. Tauhid dalam berbagai wujud berkemampuan mewarnai dunia.
Banyak sekali ujian yang menimpa para pemuda Islam dalam perjalanannya mengusung ide-ide berbasis tauhid. Sebagian mereka ditimpa stagnasi, tak berhasil bertransformasi lebih jauh. Akibatnya apologi demi apologi terlisankan, terasa hambar dan membosankan.
Ada yang lebih parah ketimbang apologis, yakni justru menghambat yunior untuk bergerak. Para senior yang stagnan ini memberikan banyak masukan, tapi sayangnya jauh dari bermutu karena ego diri lebih mengemuka. Potensi konflik mulai tumbuh dan membesar. Satu momen sangat mungkin membakar dan membumihanguskan jalinan senior-yunior yang sebelumnya harmonis.
Ada juga senior yang melenceng dari garis gagasan yang telah dipancangkan. Kekuasaan dan gelimang harta kerapkali menjadi penyebabnya. Keduanya mengikis empati sekaligus menumpulkan nalar, hingga kemudian membuat lupa sang senior ke arah mana seharusnya ia berpihak.
Para pemuda dan gerakannya penuh dinamika. Lintasan zaman dan waktu akan penuh liku. Mereka yang senantiasa mengokohkan diri, insya Allah, akan senantiasa kokoh di garis gerakannya. Sementara mereka yang lalai, sedikit saja, berpotensi mendeviasi arah yang seharusnya ditapaki.
Oleh karena itu proses 'iqra' bismi rabbik' tak boleh berhenti. Di situlah akal, hati, dan jasad bersatu dalam gerakan. Penyatuan dalam diri semoga menstimulus penyatuan antardiri. Hingga selanjutnya kesatuan terbangun, menopang gagasan kebaikan yang senantiasa relevan dengan zaman. Hingga para pengusung gagasan layak disebut dengan hormat dalam detakan waktu, sebagaimana Ibrahim 'alaihissalam disebut dengan hormat minimal dua puluh kali dalam sehari.
Wallah a'lam.
Fu'ad Fahrudin, sekretaris DPW Hidayatullah DIY - Jateng Bagian Selatan 2020-2025.
Teriring ucapan: Selamat dan Sukses Munas IX Pemuda Hidayatullah.


Post a Comment