Header Ads

Ada Kopi di Masjid



Ramai sekali sekarang ini warung-warung kopi, dari tradisional hingga modern. Menunya pun beragam. Kopi tubruk ada, kopi susu ada, dan sebagainya. Sebagian menu berbahasa Indonesia, sebagian lainnya Inggris.

Menjamurnya warung-warung kopi ini seiring dengan masifnya budaya ngopi di masyarakat. Tua, muda, bahkan anak-anak suka ngopi. Bedanya kecenderungan menu. Orang muda dan anak-anak cenderung memilih kopi yang dicampur dengan minuman lain, semisal cokelat. Dari campuran inilah muncul banyak istilah minuman seputaran kopi.

Kritik tidak terhindarkan. Pecinta kopi tubruk mengkritik pecinta kopi campuran dengan membuat istilah 'gula rasa kopi', karena kebanyakan kopi campuran berasa sangat manis. Akan tetapi pecinta kopi campuran tidak terlihat peduli, tetap saja pada pilihannya.

Ini terlihat saat ada kumpul-kumpul di warung kopi. Biasa saja orang memilih kopi campuran. Kritik didengarkan saja, dibalas senyum, lalu sruput kopinya dengan syahdu.

Pemilik warung kopi, dengan keinginan konsumen terhadap menu-menu baru, tidak terlihat gusar. Mereka santai saja. Bahkan keinginan terhadap menu-menu baru membuka pangsa yang lebih luas ketimbang sebelumnya.

Ohya satu fenomena lain tidak boleh dilupakan, istilah 'ngopi' sering dijadikan judul kegiatan. 'Ngopi' jadi akronim semisal 'Ngobrol Perihal Iman'. Walaupun saat acara, minuman teh yang terhidang.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari fenomena maraknya ngopi ini. Salah satunya kesatuan masyarakat untuk minum kopi walaupun dengan kadar berbeda-beda, yang penting ada kopi di dalam minumannya. Kadang harga tidak dipedulikan.

Nah, mungkin ada baiknya jika pusat keagamaan memodifikasi fenomena ngopi ini. Misalkan masjid. Perlu dicari cara agar orang-orang hatinya terpaut ke masjid, dengan peran dan intensitas masing-masing.

Sebagian orang bisa shalat jamaah 5x sehari, sebagian lainnya tidak. Sejumlah orang siap jadi takmir masjid, lainnya jamaah saja, lainnya pendukung. Dalam hal ini kemakluman perlu ditumbuhkan.

Hal ini dikarenakan sebagian orang dimudahkan Allah ta'ala untuk shalat jamaah 5x sehari, sebagiannya tidak. Faktor pekerjaan kerapkali mempengaruhi. Lebih jauh ada orang sudah mantap di jalan istiqomah, ada orang masih merintisnya. Dalam hal pakaian, keberagaman juga tidak bisa dihindarkan.

Ketimbang menginginkan idealitas yang sulit dicapai, semisal keseragaman pakaian shalat, baiknya pengampu masjid berfokus pada pemberdayaan peran masing-masing. Orang dengan karakteristik begini diberi peran ini, orang begitu perannya begitu. Selain itu bagus jika ada desain agar orang-orang saling bimbing serta jaga dalam kebaikan. Sehingga masjid terus hidup bahkan menghidupi masyarakat sekitar.

Bukan berarti pengampu masjid 'banting harga', semua cara dihalalkan agar orang mau ke masjid. Bukan itu. Akan tetapi pintu-pintu penerimaan dibuka lebar, asalkan tidak ada pelanggaran syari'at. Dalam hal pakaian misalkan, shalat menggunakan kaos masih dibolehkan. Tinggal kemudian ada bimbingan pelan-pelan agar terjadi peningkatan.

Pengampu masjid perlu menyadari bahwa masyarakat sekitar sudah sangat beragam, walaupun di pedesaan. Pilihannya tinggal satu, masjid mau berbaur dan beradaptasi dengan masyarakat, atau masyarakat tidak mau lagi ke masjid. Berdekatan dengan istilah agama yakni dakwah, sejauhmana dakwah masjid menjangkau masyarakat.

Mungkin ada dalih, masyarakat butuh masjid, harusnya mereka mendekat ke masjid, tidak perlu diajak dan dipaksa. Demikian kurang lebih ungkapan yang sering dilontarkan. Mungkin tidak keluar ruangan masjid, tapi nyaring terdengar di dalam.

Sebagaimana telah disampaikan, dakwah dari masjid perlu diikhtiarkan. Agar masyarakat mau ke masjid. Kadang masyarakat sudah berkeinginan, tapi malu atau tidak tahu caranya. Oleh karena itu cara komunikasi masjid ke masyarakat perlu dibuat senyaman mungkin. 

Satu catatan lainnya kampanye masjid dianjurkan bebas ego. Satu masjid mengajak orang-orang, dan orang-orang dibebaskan memilih masjid mana saja. Karena tujuan terpentingnya orang mau ke masjid.

Masjid diyakini sebagai pusat kebaikan hakiki. Dakwah perlu menjadi salah satu wujudnya. Aktivitasnya beragam, yang penting halal dan membuat nyaman.

Semoga ke depan masjid menjadi pemersatu yang lebih kuat serta permanen. Apabila diperlukan, masjid buat saja festival kopi. Orang ngopi, ngobrol, santai, kemudian berikutnya cinta masjid.

Wallah a'lam.

Diberdayakan oleh Blogger.